Menjaga Lidah

Hikam:
Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (Al-Qur`an: Al-Ahzab ayat 70)

Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman Kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” ( Hadist riwayat Bukhari dan Muslim )

Kualitas seseorang bisa terlihat dari kemampuan menjaga lidahnya. Sebaik-baik perkataan adalah perkataan yang sanggup mengatakan kebenaran dan ketika Rasulullah ditanya akhlaknya beliau menjawab akhlak beliau adalah Al-Quran. Rasul termasuk orang yang jarang berbicara tetapi sekali berbicara bisa dipastikan kebenarannya.

Puasa dibulan romadhan bukan hanya puasa perut tapi juga puasa lidah. Orang yang berkualitas tinggi dalam berbicara yaitu, syarat dengan hikmah, ide, gagasan solusi, ilmu dan dzikir. Jadi manfaatnya bisa dirasakan oleh dirinya dan orang yang di ajak berbicara.

Orang yang biasa-biasa saja dalam berbicara, dia sibuk menceritakan peristiwa-peristiwa. kita tidak dilarang menceritakan peristiwa-peristiwa tapi harus ada manfaatnya.

Orang yang rendahan dalam berbicara selalu mengeluh, mencela dan menghina. Orang yang dangkal dalam berbicara, orang tersebut sibuk menyebutkan tentang dirinya dan juga jasanya. Air gelas yang kosong maunya di isi terus, orang yang kosong dari harga diri maunya di hargai.

Menceritakan keburukan orang lain atau juga disebut ghibah merupakan dosa besar dan tidak diampuni, sebelum di halalkan atau di maafkan oleh orang yang dibicarakan. Dan bila orang yang dibicarakan sudah meninggal maka kita harus taubat dan tidak mengulanginya lagi dan do`akan kebaikan buat orang
tersebut dan juga bicarakan tentang kebaikannya.

Kita tidak bisa memaksakan orang lain sesuai dengan keinginan kita, tapi kita bisa memaksakan diri kita untuk melakukan yang terbaik dan menyikapi sikap orang lain. Kita jangan menghina, merendahkan dan meremehkan orang yang suka berbicara tidak baik kepada kita.

Mudah-mudahan pada bulan ramadhan ini kita memiliki ketrampilan yang lebih tinggi lagi untuk menjaga lisan kita, makin banyak bicara, makin banyak peluang untuk tegelincir lidah kita dan akan menjadi dosa, juga kehormatan kita akan runtuh.

Bundel by UGLY — Jan ’02
By: A AGym

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sepenuh Hati

SEPENUH HATI
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Air hujan turun membasahi bukit. Ia mengalir melintasi tebing dan cerukan sempit. Sesekali menabrak batu dan akar pohon yang menjuntai. Membawa bersama partikel hidrogen dan oksigen. Menyelisihi daun kering yang jatuh ke bumi sambil berbisik, “Ku kan membuatmu segar kembali setelah angin dan waktu membuatmu letih.” Ia terus mengalir dan mengalir hingga bertemu “kawan” lain. Membentuk aliran ke hilir hingga jadi sungai yang mengalir ke laut.
Dengan segala kerendahan diri untuk mengalir jatuh air telah menghidupkan bumi setelah kering. Membasuh dan membawa harapan baru untuk segenap mahluk. Si sumber kehidupan ini menyimpan kelembutan dan kekuatan sekaligus. Sang Pencipta Tertinggi telah memberinya kekuatan untuk bergerak menerobos celah sempit, meluncur jatuh, membentuk aliran sungai, atau tetap diam diatas bumi dan menjadi danau.
Dengan hanya tetesan, ia mampu melubangi batu dan memecahnya. Meski memakan waktu sekian jam atau bahkan hari. Tapi sekeras apapun batu ia tetap bisa melakukannya. Bermula dari setetes saja. Terus menerus. Setetes demi setetes. Hingga batu berlubang, retak dan terbelah. Saat tetesan berhenti, batu tak lagi tertandai.
Sesosok mahluk lain di belahan bumi yang berbeda telah berusaha untuk membuat sesuatu yang berguna. Ia berusaha untuk menyimpan listrik dan mengalirkannya menjadi cahaya. Edison telah berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu mencoba membuat impiannya terwujud. Untuk berhasil menyalakan sebuah bolam, ia telah menghabiskan lebih dari seribu empat ratus bolam. Ke semua bohlam itu pecah saat tak mampu menahan panas aliran listrik. Hingga akhirnya sebuah bolam berhasil menyala. Menyala dan hampir tak pernah lagi padam hingga saat ini. Dan pemadaman lampu resmi pertama dilakukan di seluruh kota pada hari ia meninggal untuk menghargai kerja kerasnya itu.
Tetesan air yang membelah batu ataupun usaha Edison membuat bola lampu adalah cerminan pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Andai mereka berhenti bergerak dan diam, tak ada yang berubah. Takkan ada yang dihasilkan. Batu takkan pecah saat tetesan berhenti sebelum waktunya. Atau tak ada lampu penerang saat hari gelap. Tetapi kedua mahluk berbeda ini terus bekerja. Terus bekerja hingga aliran sungai muncul, membasahi bumi, mengairi sawah dan menjadi sumber minum bagi mahluk Allah yang lain. Terus bekerja hingga ada cahaya saat gelap dan penerang bagi kehidupan seluruh manusia hingga hari ini. Seluruhnya bukanlah pekerjaan setengah hati. Memulai pekerjaan yang baru tidak mudah. Butuh keberanian dan semangat tinggi. Tapi itu bukanlah yang tersulit. Yang paling sulit adalah menyelesaikan apa yang telah dimulai itu dengan kebaikan. Karena lebih banyak pengorbanan dan kegigihan yang diberikan. Dan kesungguhan hati yang berbicara pada akhirnya.
Janganlah khawatir untuk mengakhiri segala pekerjaan dengan kebaikan, karena sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. Dan ternyata banyak hal yang berguna dengan bekerja sepenuh hati.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Filsafat Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

Menurut John Dewey, filsafat merupakan teori umum, sebagai landasan dari semua pemikiran umum mengenai pendidikan. Dalam kaitan filsafat dengan filsafat pendidikan Hasan Langgulung ( dalam Jalaluddin, 1997:22), beliau berpendapat bahwa filsafat dan filsafat pendidikan menjadi sangat penting sebab akan menjadi dasar , arah dan pedoman suatu sistem pendidikan, dimana filsafat pendidikan adalah aktifitas pemikiran sebagai hasil pengkajian secara teratur dan mendalam yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai – nilai dan tujuan yang akan dicapai. Dengan kata lain, filsafat berfungsi memberi memberi arah bagi teori pendidikan yang telah ada menurut aliran filsafat tertentu dan memiliki relevansi dengan kebutuhan yang nyata. Dalam hal ini, filsafat pendidikan mempunyai tugas untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori – teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.
Dalam filsafat terdapat berbagai aliran filasafat pendidikan yang memberikan pandangan tentang pelaksanaan pendidikan. Implikasi berbagai aliran tersebut dapat diamati di sekolah – sekolah , yaitu apa tujuan dari pendidikan di suatu sekolah, bagaimana kedudukan peserta didik dan peran guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik, metode apa yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas, dan kurikulum pembelajaran yang dirancang oleh masing – masing sekolah.
Berdasarkan aliran – aliran filsafat pendidikan tersebut, perlu diadakan observasi langsung ke sekolah – sekolah guna melihat aliran apa yang diterapkan oleh guru di sekolah. Observasi dilakukan dengan melihat kegiatan belajar mengajar di kelas, bagaimana interaksi antara guru dan siswa di kelas, apakah menerapkan salah satu aliran filsafat pendidikan para ahli.
Observasi ini dilakukan di SMP Budi Murni di Jalan Timur, Medan pada tanggal 26 Nopember 2009. Observasi dilakukan dengan melihat proses belajar mengajar di dalam kelas, bagaimana interaksi antara guru dan siswa, serta melihat bagaimana peran guru dan bagaimana guru memposisikan siswanya sebagai peserta didik. Selanjutnya hasil observasi akan dibandingkan dengan teori aliran – aliran filsafat pendidikan para ahli dan dapat dilihat aliran mana yang diterapkan oleh guru dan sekolah.
Sebenarnya, peran filsafat dalam dunia pendidikan penting, yaitu sebagai kerangka acuan guna mewujudkan cita – cita pendidikan yang diharapkan oleh masyarakat. Dengan adanya observasi ini, diharapkan dapat mengetahui relevansi teori aliran filsafat pendidikan yang dikatakan oleh para ahli dengan kenyataan di sekolah. Apakah teori tersebut masih diterapkan oleh sekolah, dan memberikan dampak yang positif terhadap pendidikan di sekolah atau sebaliknya. Karena adanya perkembangan dan perubahan yang terjadi dari zaman ke zaman dengan corak dan ciri yang berbeda, maka akan cenderung memacu manusia untuk berpikir mencari nilai kebenaran dan tujuan pendidikan yang diinginkan.

BAB II
TINJAUAN KONSEP PELAKSANAAN PENDIDIKAN MENURUT BERBAGAI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

1. Idealisme
Prinsip aliran idealisme mendasari semua yang ada dan yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang Nampak dan tergambar. Artinya, manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi kehidupan manusia,karena benda atau materi disebut dengan penjelmaan dari roh.
Dalam pendidikan, berdasarkan pendapat aliran ini, guru harus membimbing peserta didik karena pengetahuan terbaik adalah pengetahuan yang dikeluarkan dalam diri peserta didik, bukan dimasukkan dalam peserta didik.
2. Realisme
Prinsip aliran realisme dikemukakan oleh salah seorang tokoh atau penganut realism yaitu Johan Amos Comenius, yang menyatakan bahwa manusia selalu berusaha untuk mencapai tujuan hidup berupa, pertama keselamatan dan kebahagiaan hidup yang abadi. Kedua, adalah kehidupan dunia adalah mencapai kehidupan dunia yang sejahtera dan damai.
Dalam pendidikan, pelajaran harus didasarkan pada minat peserta didik, setiap mata pelajaran harus memiliki outline proses belajar mengajar, silabus, RPP. Pembelajaran di kelas berlangsung secara berkesinambungan mengikuti perkembangan zaman dan didukung oleh gambar – gambar, peta, foto dan hasil karya peserta didik sehingga aktivitas siswa dan guru dapat membantu pengembangan hakikat manusia.
3. Materialisme
Aliran materialisme adalah suatu aliran yang mementingkan kebendaan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini ialah yang dapat diobservasi baik wujud maupun gerakannya serta peristiwa yang terjadi. Filusuf Julian Offray dalam filsafatnya menganggap bahwa alam dan manusia merupakan mesin otomatis karena ia mempunyai gerakan didorong oleh materi. Artinya, jiwa tanpa badan tidak mungkin ada, sedangkan badan tanpa jiwa masih dapat bergerak dan bertindak.
Dalam pendidikan, materi yang dipentingkan adalah perilaku yang dapat diamati dan dapat diukur. Artinya , proses pendidikan atau pembelajaran mementingkan keterampilan dan pengetahuan akademis yang empiris sebagai hasil kajian sains, serta perilaku sosial sebagai hasil belajar.
4. Pragmatisme
Merupakan aliran filsafat Amerika asli, yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia adalah apa yang mereka alami. Pragmatisme berasal dari kata “Pagma” yang berarti praktek atau aku berbuat. Manusia akan selalu berubah dan berkembang, untuk itu manusia akan bergerak menyesuaikan diri dengan keadaan terhadap perubahan dalam lingkungannya agar dapat bertahan hidup.
Dalam pendidikan, menurut pandangan pragmatisme, peserta didik dibentuk dalam suatu proses terorganisir dari pengalaman – pengalaman peserta didik masing – masing yang artinya manusia selalu belajar dari pengalamannya. Maka, guru harus menciptakan pembelajaran yang tidak memaksakan tetapi dapat membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran.

5. Eksistensialisme
Aliran ini berpendapat bahwa hanya manusialah yang bereksistensi, manusialah yang menjadi pusat perhatian. Manusia bebas menjadi apa dan bebas menentukan keputusan komitmennya sendiri dengan cara menciptakan dirinya secara aktif. Merencanakan, berbuat dan menjadi. Tetapi, manusia tidak terpisah dari dunia sekitarnya, artinya manusia terikat dan realistis dalam eksistensinya.
Pendidikan menurut filsafat ini bertujuan mengembangkan kesadaran individu, memberi kesempatan untuk bebas memilih etika, mendorong pengembangkan pengetahuan diri sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan mengembangkan komitmen diri sendiri. Materi pelajaran harus memberi kesempatan aktif sendiri, merencana dan melaksanakan sendiri, baik dalam bekerja sendiri maupun kelompok. Materi yang dipelajari ditekankan kepada kebutuhan langsung dalam kebutuhan manusia. Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman atau strategi untuk mengahadapi perbedaan-perbedaan peserta didik. Guru harus bersifat demokratis dengan teknik mengajar langsung.

6. Progresivisme
Aliran progresivisme menganggap bahwa manusia mempunyai jiwa perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah, dan perbuatan nyata. Menurut filsafat ini tidak ada tujuan yang pasti, begitu pula tidak ada kebenaran yang pasti. Tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif, apa yang sekarang dipandang benar karena dituju dalam kehidupan, tahun depan belum tentu masih tetap benar. Ukuran kebenaan adalah yang berguna bagi kehidupan manusia hari ini.
Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik. Dimana, diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain (Ali, 1990: 146). Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriterSebagai konsekuensi dari pandangan ini, maka yang dipentingkan dalam pendidikan adalah mengembangan peserta didik untuk bisa berpikir, yaitu bagaimana berpikir yang baik. Hal ini bisa tercapai melalui metode belajar pemecahan masalah yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri. Karena itu pendidikan menjadi pusat pada anak. Untuk mempercepat proses perkembangan mereka juga menekankan prinsip mendisiplin diri sendiri, sosialisasi, dan demokratisasi. Perbedaan-perbedaan individual juga sangat mereka perhatikan dalam pendidikan.

7. Perenialisme
Perenialisme menganggap pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang. Jadi, perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap tegas dan lurus. Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami factor – factor dan problema yang perlu diselaraskan dan berusaha mengadakan penyelesain masalahnya. Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya –karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental, karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau.
Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, IPA dan lain – lain. Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan. Matang dalam arti hidup akalnya. Jadi, hal inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah kematangan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung, anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan – pengetahuan yang lain. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan, tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik. Dengan kata lain, keberhasilan anak dalam bidang akalnya sangat tergantung kepada guru.
8. Esensialisme
Filsafat pendidikan Esesialisme bertitik tolak dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya. Kebenaran seperti itulah yang esensial, yang lain adalah kebenaran secara kebetulan saja. Kebenaran esensial itu adalah kebudayaan klasik yang muncul pada zaman Romawi yang menggunakan buku-buku klasik ditulis dengan bahasa latin dikenal dengan nama Great Book.
Tekanan pendidikannya adalah pada pembentukan intelektual dan logika. Dengan mempelajari kebudayaan Yunani-Romawi yang menggunakan bahasa latin yang sulit itu, diyakini otak peserta didik akan terarah dengan baik dan logikanya akan berkembang. Disiplin sangat diperhatikan, pelajaran dibuat sangat berstruktur, dengan materi pelajaran berupa warisan kebudayaan, yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga mempercepat kebiasaan berpikir efektif, pengajaran terpusat pada guru.
9. Rekonstruksionisme
Kata Rekonstruksionisme berasal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Sekolah haruslah mempelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985: 340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

Tabel 1. Implikasi Aliran Filsafat Pendidikan Pada Sekolah
Aliran filsafat Pendidikan Implikasi Aliran Filsafat Dalam Pendidikan
Tujuan Pendidikan Kedudukan Peserta Didik Peranan Guru Kurikulum Metode
1. Idealisme Pendidikan bertujuan untuk membentuk karakter dan mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial.
Bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya/bakatnya.
Bekerjasama dengan alam dalam proses pengembangan manusia terutama bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan pendidikan peserta didik.
Dengan kurikulum pendidikan liberal untuk mengembangkan kemampuan rasional dan pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
Digunakan metode dialektika tetapi metode lain yang lain dapat dimanfaatkan

2. Realisme Untuk penyesuaian hidup dan bertanggungjawab sosial Peserta didik mengetahui pengetahuan yang handal, dapat dipercaya. Disiplin yang baik adalah disiplin mental dan moral untuk memperoleh hasil yang baik Guru harus menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan menuntut prestasi dari peserta didik. Kurikulum komprehensif, mencakup semua pengetahuan teori dan praktis. Belajar bergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak langsung , dan metode penyampaian harus logis dan psikologis, misalnya ; metode peragaan dan induktif.
3. Materialisme Mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya agar memiliki tanggungjawab hidup social dan pribadi yang kompleks Tidak ada kebebasan, pembentukan peserta didik dirancang dan diatur dari luar Guru berkuasa untuk merancang dan mengontrol proses pendidikan, guru dapat mengukur kualitas dan karakter hasil belajar peserta didik. Isi pengetahuan mencakup pengetahuan yang dapat dipercaya, diorganisir, dan selalu berorientasi pada tujuan yang diharapkan dari peserta didik Kondisionisasi (SR conditioning). Operant conditioning, reinforcement, pelajaran berprogram dan kompetensi
4. Pragmatisme Memberi pengalaman untuk penemuan hal – hal baru dalam kehidupan sosial dan pribadi. Peserta didik dianggap memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Guru memfasilitasi, mendorong dan mengarahkan serta membimbing peserta didik sehingga pembelajaran berlangsung tanpa ada unsur pemaksaan, sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Kurikulum berisi pengalaman yang teruji, dapat berubah, dan dikembangkan berdasarkan minat dan kebutuhan peserta didik Menggunakan belajar sambil bekerja (learning by doing), peserta didik aktif dalam pembelajaran
5. Eksistensialisme Pendidikan memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan. Peserta didik adalah manusia yang rasional, bebas memilih dan bertanggungjawab atas pilihannya. Guru melindungi dan memelihara kebebasan akademik Kurikulum bersifat liberal, yaitu memiliki kebebasan memilih dan menentukan aturan – aturan serta pengalaman belajar sesuai dengan minat, kebutuhan peserta didik dan diajarkan pendidikan social. Penggunaan metode tidak terlalu dipikirkan dan mendalam asalkan mencapai tujuan yakni kebahagiaan dan kepribadian yangbaik.
6. Progresivisme Pendidikan untuk membina peserta didik berpikir rasional serta menjadi manusia cerdas yang berkonstribusi pada masyarakat. Peserta didik memiliki kesempatan yang luas untuk bekerjasama dalam kelompok dan memecahkan masalah. Guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator agar peserta didik terdorong dan terbantu untuk belajar dn mencari pengalaman. Dasar pembuatan kurikulum adalah minat – minat peserta didik bukan disiplin ilmu atau akademik. Metode diarahkan agar terjadi pembelajaran efektif dan aktif . Misalnya diadakan pendekatan laboratorium, kunujungan lapangan, simulasi, bermain peran, eksplorasi internet dan aktivitas lainnya yang menimbulkan pengalaman.
7. Perenialisme Pendidikan diharapkan dapat menciptakan pemuliaan manusia dan memberikan pengetahuan tentang kebenaran yang pasti dan abadi. Misalnya mata pelajaran : Bahasa, sejarah, Matematika, IPA, filsafat, dan seni Peserta didik dipersiapkan untuk hidup, dengan mengembangkan pikiran dan bawaannya sesuai dengan tujuan. Peserta didik harus mempelajari karya – karya besar dalam literature yang menyangkut ilmu pasti dan abadi. Guru memformulasikan masalah yang kemudian didiskusikan dan disimpulkan oleh kelas. Sehingga, dengan iklim kritis dan demokratis yang dibangun dalam kultur ini, peserta didik dapat mengetahui pendapatnya sendiri sekaligus menghargai perbedaan pemikiran yang ada. Pembuatan kurikulum didasarkan pada persiapan untuk hidup maka pendidikan harus sama kapanpun dan dimanapun berada. Memakai metode trial and error untuk memperoleh pengetahuan proposisional
8. Esensialisme Pendidikan untuk menanamkan disiplin, kerja keras dan rasa hormat peserta didik. Sehingga tercipta kesejahteraan dan kebahagiaan dengan tuntutan demokrasi. Peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki kemampuan yang dapat berkembangn dengan baik apabila dilibatkan secara aktif serta diberi motivasi dan semangat dalam pembelajaran. Pelaksanaan pendidikan datang dari guru. Inisiatif pelaksanaan pendidikan datang dari guru. Guru memberi motivasi dan semangat untuk belajar kepada peserta didik. Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berhitung, dan berbicara terutama dikembangkan pada pendidikan dasar. Metode yang digunakan adalah metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. Misalnya metode problem solving.
9. Rekonstruksional Tujuan pendidikan adalah menciptakan aturan social yang ideal, adanya transmisi budaya dalam kegiatan pendidikan. Nilai – nilai budaya peserta didik sangat dihargai di sekolah. Keluhuran dan tanggungjawab social ditingkatkan. Guru menghargai dengan tulus dan ikhlas budaya dalam setiap interaksi di dalam kelas maupun di luar kelas. Kurikulum di sekolah harus diwarnai oleh semua budaya dan nilai – nilai yang berhubungan dengan sekolah, tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas atau budaya yang disukai. Metode yang digunakan adalah Learning By Doing (belajar sambil bekerja) dan juga metode lain dalam pendidikan progresif

BAB III
TINJAUAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN YANG BERLANGSUNG DI SEKOLAH

Nama Sekolah : SMP Budi Murni
Alamat : Jalan Timur, Medan
Hari/Tanggal Observasi : Kamis, 26 Nopember 2009
Kelas : VIII
Mata Pelajaran : Matematika, PPKN, dan Elektronika
Mata Pelajaran Konsep Aliran Filsafat Pendidikan Di Sekolah Implementasi Kegiatan Belajar Sesuai Dengan Aliran Filsafat Dalam Pembelajaran Di Kelas Aliran Yang Diterapkan
Matematika a. Tujuan Pendidikan :
– Ada Pengembangan bakat, kemampuan, dasar serta kebaikan sosial
– Pembelajaran mencerminkan penyesuaian hidup dan tanggungjawab sosial
– Ada pembinaan disiplin, kerja keras dan rasa hormat
b. Peran Guru :
– Guru menguasai pengetahuan, terampil, dan menuntut prestasi siswa
– Guru berkuasa mengontrol dan merancang pembelajaran
– Guru memfasilitasi, mendorong dan mengarahkan siswa agar dapat menyelidiki, mengamati, dan menarik kesimpulan sendiri serta bekerjasama memecahkan masalah yang dihadapinya.
– Guru sebagai pembimbing dan fasilitator
– Kendali pelaksanaan pembelajaran adalah guru Idealisme, Realisme, Materialisme, Esensialisme

Realisme, materialisme, pragmatism, esensialisme
c. Status/kedudukan peserta didik:
– Siswa diikat dengan peraturan
– Tidak ada kebebasan peserta didik, mereka dituntut untuk belajar sesuai rancangan. Realisme, materialisme, pragmatism
d. Metode Pembelajaran:
– Pembelajaran berlangsung secara berkesinambungan.
– Problem Solving. Realisme, esensialisme, materialisme
e. Bahan Ajar :
– Pembelajaran teori dan praktis
– Isi pendidikan mencakup materi terpercayadan terorganisir Realisme
2. PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) a. Tujuan Pendidikan :
– Ada Pengembangan bakat, kemempuan dasar serta kebaikan sosial
– Pembelajaran Mencerminkan penyesuaian hidup dan tanggungjawab sosial
– Memberikan pengalaman untuk penemuan hal – hal baruu
– Ada pembinaan disiplin kerja keras, dan rasa hormat
Idealisme, pragmatism, esensialisme
b. Peran Guru :
– Guru membuat RPP dan silabus
– Guru menyampaikan garis – garisbesar pembelajaran yang akan dipelajari siswa
– Guru berkuasa dan mengontrol pembelajaran
– Guru menampilkan kerjasama yang baik dengan peserta didik
– Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih
– Guru sebagai pembimbing dan fasilitator
– Kendali pelaksanaan pembelajaran adalah guru
Materialisme, realism, pragmatism, eksestensialisme, progresivisme
c. Status/kedudukan Peserta Didik :
– Siswa bebas mengembangkan bakat
– Siswa bebas berdialektika mengemukakan pendapat
– Siswa juga diikat dengan peraturan Idealisme, realism
d. Metode Pembelajaran:
– Belajar dengan gambar, foto, atau media lain
– Sering membentuk kelompok
– Sering mengadakan praktek pembelajaran (kunjungan lapangan)/simulasi/bermain peran/eksplorasi internet, dll
– Pendidikan dengan usaha keras, tidak timbul dari siswa Realisme, rekonstruksionisme, esensialisme
f. Bahan Ajar ;
– Pembelajaran mengikuti perkembangan pengetahuan terus – menerus
– Pembelajaran teori dan praktis
– Isi pendidikan mencakup materi terpercaya dn terorganisir Realisme, materialisme
3. Elektronika a. Tujuan Pendidikan :
– Mencerminkan pendidikan agar manusia perlu pendidikan terkontrol supaya menjadi baik
– Mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya
– Memberikan pengalaman untuk penemuan hal – hal baru
– Memfokuskan pengalaman siswa
– Memberi mata pelajaran yang tidak hanya penting sesaat saja atau harus mampu menjadi pemecahan masalah ke depan
– Ada pembinaan disiplin, kerja keras dan rasa hormat. Materialisme, Pragmatisme, Eksistensialisme, Progresivisme, Esensialisme.

Materialisme, Realisme, Pragmatisme, Eksistensialisme, Progresivisme, Esensialisme
b. Peran Guru :
– Guru membuat RPP dan silabus
– Guru menyampaikan garis – garisbesar pembelajaran yang akan dipelajari siswa
– Guru menguasai pengetahuan, terampil, dan menuntut prestasi siswa
– Guru berkuasa mengontrol dan merancang pembelajaran
– Guru tidak memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan siswa
– Guru menampilkan kerjasama yang baik dengan siswa
– Guru memfasilitasi, mendorong, dan mengarahkan siswa agar dapat menyeleidiki, mengamati, dan menarik kesimpulan sendiri serta bekerjasama dalam memecahkan masalah yang dihadapi siswa
– Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih dan memberi siswa pengalaman – pengalaman
– Guru sebagai pembimbing dan fasilitator
– Kendali pelaksanaan pembelajaran adalah guru
Idealisme, Realisme, Materialisme, Pragmatisme, Rekonstruksionisme

c. Status/kedudukan peserta didik :
– Siswa bebas mengembangkan bakat dan minat
– Siswa bebas berdialektika mengemukakan pendapat
– Siswa diikat dengan peraturan
– Siswa diberi masalah dalam suatu kondisi sehingga muncul motivasi untuk mengembangkannya
– Nilai – nilai budaya siswa sangat dihargai Realisme, Rekonstruksionisme, Esensialisme, Progresivisme
d. Metode Pembelajaran :
– Pelajaran tidak dipaksakan dari luar
– Belajar dengan gambar, peta, foto atau media lain
– Pembelajaran berlangsung secara berkesinambungan (ada kaitan dengan materi sebelumnya/pertemuan sebelumnya)
– Penyampaian pembelajaran tergantung pada pengalaman, baik langsung/tidak, tegas dan logis.
– Kondisionisasi yaitu adanya pembiasaan perilaku
– Learning by doing Realisme, Materialisme
e. Bahan Ajar ;
– Pembelajaran mengikuti perkembangan pengetahuan terus menerus
– Pembelajaran teori dan praktis
– Isi pendidikan mencakup materi terpercaya dan terorganisir

BAB IV
TINJAUAN PENERAPAN KONSEP ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM PRAKTEK PELAKSANAAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR BACAAN
Jalaluddin dan Abdullah. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta : Gaya Media Pratama

Tim Pengajar. 2009. Filsafat Pendidikan. Medan : Universitas Negeri Medan

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Prinsip Lingkungan Hidup

PRINSIP-PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
A. MANUSIA & LINGKUNGAN HIDUP
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya.
Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang, berarti sisa luas hutan di Indonesia hanya sebesar 28 persen.
Kemudian data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen (Khofid, 2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah. Berdasarkan hal tersebut perlu diterapkan etika tentang linggkungan hidup.
Etika lingkungan hidup membicarakan mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia berhubungan dengan alam tersebut.

B. TEORI ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
Menurut Sony Keraf , terdpat tiga model teori etika lingkungan, yaitu:
a. Shallow Environmental Ethics (antroposentrisme)
Merupakan cara pandang etika lingkungan barat yang bermula dari Aristoteles hingga filsuf-filsuf modern, di mana perhatian utamanya menganggap bahwa etika hanya berlaku bagi komunitas manusia. Maksudnya, dalam etika lingkungan, manusialah yang dijadikan satu-satunya pusat pertimbangan, dan yang dianggap relevan dalam pertimbangan moral. Akibatnya, secara teleologis, linkungan diupayakan dapat menghasilkan manfaat bagi manusia dan menghindarkan akibat buruk terhadap manusia.

Dengan kata lain, nilai tertinggi adalah kepentingan manusia. Sehingg hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian.
Cara pandang antroposentrisme, kini dikritik secara oleh etika biosentrisme dan ekosentrisme.
b. Intermediate Environmental Ethics (biosentrisme)
Bagi biosentrisme, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk sosial. Manusia pertama-tama harus dipahami sebagai makhluk biologis, makhluk ekologis. Dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Pada biosentrisme, konsep etika dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan.
c. Deep Environmental Ethics (ekosentrisme)
Ekosentrisme berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda dengan biosentrisme, yang hanya berpusat, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak hidup.
Salah satu versi teori ekosentrisme yang popular saat ini adalah Deep Ecology (DE). DE menuntut suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia, tetapi berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. DE tidak mengubah sama sekali hubungan antara manusia dengan manusia. Yang baru dari DE adalah:
 Pertama, manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran bagi segala sesuatu yang lain. Manusia bukan lagi pusat dari dunia moral. DE justru memusatkan perhatian kepada semua spesies termasuk spesies bukan manusia. Singkatnya, biosphere seluruhnya. Demikian pula, DE tidak hanya memusatkan perhatian pada kepentingan jangka pendek, tetapi jangka panjang. Maka, prinsip moral yang dikembangkan DE menyangkut kepentingan seluruh komunitas ekologis.
 Kedua, bahwa etika lingkungan hidup yang dikembangkan DE dirancang sebagai sebuah etika praktis, sebagai sebuah gerakan. Artinya, prinsip-prinsip moral etika lingkungan harus diterjemahkan dalam aksi nyata dan konkret. DE menyangkut suatu gerakan yang jauh lebih dalam dan komprehensif dari sekedar sesuatu yang instrumental dan ekspresionis sebagaimana ditemukan pada antroposentrisme dan biosentrisme. DE menuntut suatu pemahaman yang baru tentang relasi etis yang ada dalam semesta ini disertai adanya prinsip-prinsip baru sejalan dengan relasi etis baru tersebut, yang kemudian diterjemahkan dalam gerakan atau aksi nyata di lapangan.
Dengan demikian DE menjadi sebuah alternatif yang menarik. Suatu alternatif untuk melakukan gerakan penyelamatan lingkungan secara bersama-sama dengan mengubah cara berpikir, gaya hidup dan perilaku individu, masyarakat dan kebijakan politik dan ekonomi.
C. SEMBILAN PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
Ada Sembilan prinsi-prinsip etika lingkungan hidup, yaitu:
1. Sikap Hormat Terhadap Alam (Respect For Nature)
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga.
2. Prinsip Tanggungjawab (Moral Responsibility For Nature)
Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam.
Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggungjawab bersama seluruh manusia. Jadi, manusia sebagai bagian dari alam harus bertanggungjawab menjaganya.
3. Prinsip Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan di dalam diri manusia akan perasaan solider dan sepenanggungan dengan alam dan sesame makhluk hidup lain.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian Terhadap Alam (Caring For Nature)
Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang sama, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat.
5. Prinsip “No Harm”
Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam. Adanya sikap solider, maka manusia tidak melakukan hal yang dapat merugikan atau mengancam eksistensi makhluk hidup lain di alam semesta ini (no harm).
6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras Dengan Alam
Pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi dan dan pemuas kehidupan manusia. Yang ditekankan adalah nilai, kualitas dan standar material, bukan rakus dan tamak mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Yang paling penting adalah mutu kehidupan yang baik.
7. Prinsip Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan ikut menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari.
8. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini didasari terhadap berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan didalam menentukan baik-buruknya, rusak-tidaknya, suatu sumber daya alam. Prinsip demokrasi mencakup beberapa prinsip moral lainnya, yaitu:
a. Demokrasi menjamin adanya keanekaragaman dan pluralitas, baik kehidupan maupun aspirasi, kelompok dan nilai
b. Demokrasi menjamin kebebasan dalam mengeluarkan pendapat dan memperjuangkan nilai yang dianut oleh setiap orang dan kelompok masyarakat dalam bingkai kepentingan bersama.
c. Demokrasi menjamin setiap orang dan kelompok masyarakat ikut berpartisipasi dalam menentukan kebijakan public tersebut.
d. Demokrasi menjamin hak setiap orang dan kelompok masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat untuk setiap kebijakan public dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan public.
e. Demokrasi menuntut adanya akuntabilitas public agar kekuasaan yang diwakilkan rakyat kepada penguasa tidak digunakan sewenang-wenang .
9. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.

Pertanyaan:
1. Apa yang dimaksud dengan etika lingkungan hidup?
2. Apakah perbedaan antara antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme?
3. Jelaskan sembilan prinsip etika lingkungan hidup.
Jawaban:
1. Etika lingkungan hidup membicarakan mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia berhubungan dengan alam tersebut.
2. Antroposentrisme adalah cara pandang etika lingkungan barat yang bermula dari Aristoteles hingga filsuf-filsuf modern, di mana perhatian utamanya menganggap bahwa etika hanya berlaku bagi komunitas manusia.
Biosentrisme menganggap manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk sosial. Dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Pada biosentrisme, konsep etika dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan.
Ekosentrisme berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda dengan biosentrisme, yang hanya berpusat, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak hidup.
3. 1. Sikap Hormat terhadap Alam
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya
2. Prinsip Tanggung Jawab
Tanggung jawab ini bukan saja bersifat individu melainkan juga kolektif yang menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan isinya.

3. Prinsip Solidaritas
Yaitu prinsip yang membangkitkan rasa solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan makluk hidup lainnya sehigga mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian
Prinsip satu arah , menuju yang lain tanpa mengaharapkan balasan, tidak didasarkan kepada kepentingan pribadi tapi semata-mata untuk alam.
5. Prinsip “No Harm”
Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu
6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam
Ini berarti , pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia.
7. Prinsip Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan dalam ikut menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari.
8. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini didsari terhadap berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan didalam menentukan baik-buruknya, tusak-tidaknya, suatu sumber daya alam.
9. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.
PRINSIP-PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
A. MANUSIA & LINGKUNGAN HIDUP
Lingkungan merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia. Sehingga lingkungan harus dipandang sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti, lingkungan memiliki nilai terhadap dirinya sendiri. Integritas ini menyebabkan setiap perilaku manusia dapat berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Perilaku positif dapat menyebabkan lingkungan tetap lestari dan perilaku negatif dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Integritas ini pula yang menyebabkan manusia memiliki tanggung jawab untuk berperilaku baik dengan kehidupan di sekitarnya.
Luas hutan di Indonesia adalah sebesar 120,35 juta hektar, terdiri dari hutan produksi 66,35 juta hektar, hutan lindung 33,50 juta hektar, hutan konservasi 20,50 juta hektar. Penutupan vegetasi di dalam kawasan hutan mencapai 88 juta hektar (Sinar Harapan, 2008). Tutupan hutan di Indonesia memiliki luas sebesar 130 juta hektar, menurut World Reseach Institute (sebuah lembaga think tank di Amerika Serikat), 72 persen hutan asli Indonesia telah hilang, berarti sisa luas hutan di Indonesia hanya sebesar 28 persen.
Kemudian data Departemen Kehutanan sendiri mengungkapan bahwa 30 juta hektar hutan di Indonesia telah rusak parah, atau sebesar 25 persen (Khofid, 2004). Data-data ini menunjukan bahwa kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku manusia, telah mencapai tingkat yang parah. Berdasarkan hal tersebut perlu diterapkan etika tentang linggkungan hidup.
Etika lingkungan hidup membicarakan mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia berhubungan dengan alam tersebut.

B. TEORI ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
Menurut Sony Keraf , terdpat tiga model teori etika lingkungan, yaitu:
a. Shallow Environmental Ethics (antroposentrisme)
Merupakan cara pandang etika lingkungan barat yang bermula dari Aristoteles hingga filsuf-filsuf modern, di mana perhatian utamanya menganggap bahwa etika hanya berlaku bagi komunitas manusia. Maksudnya, dalam etika lingkungan, manusialah yang dijadikan satu-satunya pusat pertimbangan, dan yang dianggap relevan dalam pertimbangan moral. Akibatnya, secara teleologis, linkungan diupayakan dapat menghasilkan manfaat bagi manusia dan menghindarkan akibat buruk terhadap manusia.

Dengan kata lain, nilai tertinggi adalah kepentingan manusia. Sehingg hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian.
Cara pandang antroposentrisme, kini dikritik secara oleh etika biosentrisme dan ekosentrisme.
b. Intermediate Environmental Ethics (biosentrisme)
Bagi biosentrisme, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk sosial. Manusia pertama-tama harus dipahami sebagai makhluk biologis, makhluk ekologis. Dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Pada biosentrisme, konsep etika dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan.
c. Deep Environmental Ethics (ekosentrisme)
Ekosentrisme berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda dengan biosentrisme, yang hanya berpusat, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak hidup.
Salah satu versi teori ekosentrisme yang popular saat ini adalah Deep Ecology (DE). DE menuntut suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia, tetapi berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. DE tidak mengubah sama sekali hubungan antara manusia dengan manusia. Yang baru dari DE adalah:
 Pertama, manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran bagi segala sesuatu yang lain. Manusia bukan lagi pusat dari dunia moral. DE justru memusatkan perhatian kepada semua spesies termasuk spesies bukan manusia. Singkatnya, biosphere seluruhnya. Demikian pula, DE tidak hanya memusatkan perhatian pada kepentingan jangka pendek, tetapi jangka panjang. Maka, prinsip moral yang dikembangkan DE menyangkut kepentingan seluruh komunitas ekologis.
 Kedua, bahwa etika lingkungan hidup yang dikembangkan DE dirancang sebagai sebuah etika praktis, sebagai sebuah gerakan. Artinya, prinsip-prinsip moral etika lingkungan harus diterjemahkan dalam aksi nyata dan konkret. DE menyangkut suatu gerakan yang jauh lebih dalam dan komprehensif dari sekedar sesuatu yang instrumental dan ekspresionis sebagaimana ditemukan pada antroposentrisme dan biosentrisme. DE menuntut suatu pemahaman yang baru tentang relasi etis yang ada dalam semesta ini disertai adanya prinsip-prinsip baru sejalan dengan relasi etis baru tersebut, yang kemudian diterjemahkan dalam gerakan atau aksi nyata di lapangan.
Dengan demikian DE menjadi sebuah alternatif yang menarik. Suatu alternatif untuk melakukan gerakan penyelamatan lingkungan secara bersama-sama dengan mengubah cara berpikir, gaya hidup dan perilaku individu, masyarakat dan kebijakan politik dan ekonomi.
C. SEMBILAN PRINSIP ETIKA LINGKUNGAN HIDUP
Ada Sembilan prinsi-prinsip etika lingkungan hidup, yaitu:
1. Sikap Hormat Terhadap Alam (Respect For Nature)
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti halnya, setiap anggota komunitas sosial mempunyai kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama (kohesivitas sosial), demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies dalam komunitas ekologis itu, serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga kohesivitas dan integritas komunitas ekologis, alam tempat hidup manusia ini. Sama halnya dengan setiap anggota keluarga mempunyai kewajiban untuk menjaga keberadaan, kesejahteraan, dan kebersihan keluarga, setiap anggota komunitas ekologis juga mempunyai kewajiban untuk menghargai dan menjaga alam ini sebagai sebuah rumah tangga.
2. Prinsip Tanggungjawab (Moral Responsibility For Nature)
Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam di atas adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena manusia diciptakan sebagai khalifah (penanggung jawab) di muka bumi dan secara ontologis manusia adalah bagian integral dari alam.
Setiap bagian dan benda di alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggungjawab bersama seluruh manusia. Jadi, manusia sebagai bagian dari alam harus bertanggungjawab menjaganya.
3. Prinsip Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
Terkait dengan kedua prinsip moral tersebut adalah prinsip solidaritas. Sama halnya dengan kedua prinsip itu, prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam semesta. Lebih dari itu, dalam perspektif ekofeminisme, manusia mempunyai kedudukan sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk lain di alam ini. Kenyataan ini membangkitkan di dalam diri manusia akan perasaan solider dan sepenanggungan dengan alam dan sesame makhluk hidup lain.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian Terhadap Alam (Caring For Nature)
Sebagai sesama anggota komunitas ekologis yang sama, manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi. Kasih sayang dan kepedulian ini juga muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat.
5. Prinsip “No Harm”
Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam. Adanya sikap solider, maka manusia tidak melakukan hal yang dapat merugikan atau mengancam eksistensi makhluk hidup lain di alam semesta ini (no harm).
6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras Dengan Alam
Pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi dan dan pemuas kehidupan manusia. Yang ditekankan adalah nilai, kualitas dan standar material, bukan rakus dan tamak mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Yang paling penting adalah mutu kehidupan yang baik.
7. Prinsip Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan ikut menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari.
8. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini didasari terhadap berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan didalam menentukan baik-buruknya, rusak-tidaknya, suatu sumber daya alam. Prinsip demokrasi mencakup beberapa prinsip moral lainnya, yaitu:
a. Demokrasi menjamin adanya keanekaragaman dan pluralitas, baik kehidupan maupun aspirasi, kelompok dan nilai
b. Demokrasi menjamin kebebasan dalam mengeluarkan pendapat dan memperjuangkan nilai yang dianut oleh setiap orang dan kelompok masyarakat dalam bingkai kepentingan bersama.
c. Demokrasi menjamin setiap orang dan kelompok masyarakat ikut berpartisipasi dalam menentukan kebijakan public tersebut.
d. Demokrasi menjamin hak setiap orang dan kelompok masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat untuk setiap kebijakan public dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan public.
e. Demokrasi menuntut adanya akuntabilitas public agar kekuasaan yang diwakilkan rakyat kepada penguasa tidak digunakan sewenang-wenang .
9. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.

Pertanyaan:
1. Apa yang dimaksud dengan etika lingkungan hidup?
2. Apakah perbedaan antara antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme?
3. Jelaskan sembilan prinsip etika lingkungan hidup.
Jawaban:
1. Etika lingkungan hidup membicarakan mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam, serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia berhubungan dengan alam tersebut.
2. Antroposentrisme adalah cara pandang etika lingkungan barat yang bermula dari Aristoteles hingga filsuf-filsuf modern, di mana perhatian utamanya menganggap bahwa etika hanya berlaku bagi komunitas manusia.
Biosentrisme menganggap manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk sosial. Dunia bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah, tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain secara fundamental. Pada biosentrisme, konsep etika dibatasi pada komunitas yang hidup (biosentrism), seperti tumbuhan dan hewan.
Ekosentrisme berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda dengan biosentrisme, yang hanya berpusat, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak hidup.
3. 1. Sikap Hormat terhadap Alam
Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya
2. Prinsip Tanggung Jawab
Tanggung jawab ini bukan saja bersifat individu melainkan juga kolektif yang menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan isinya.

3. Prinsip Solidaritas
Yaitu prinsip yang membangkitkan rasa solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan makluk hidup lainnya sehigga mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan.
4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian
Prinsip satu arah , menuju yang lain tanpa mengaharapkan balasan, tidak didasarkan kepada kepentingan pribadi tapi semata-mata untuk alam.
5. Prinsip “No Harm”
Yaitu Tidak Merugikan atau merusak, karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu
6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras dengan Alam
Ini berarti , pola konsumsi dan produksi manusia modern harus dibatasi. Prinsip ini muncul didasari karena selama ini alam hanya sebagai obyek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia.
7. Prinsip Keadilan
Prinsip ini berbicara terhadap akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam, dan dalam ikut menikmati manfaat sumber daya alam secara lestari.
8. Prinsip Demokrasi
Prinsip ini didsari terhadap berbagai jenis perbeaan keanekaragaman sehingga prinsip ini terutama berkaitan dengan pengambilan kebijakan didalam menentukan baik-buruknya, tusak-tidaknya, suatu sumber daya alam.
9. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini menuntut pejabat publik agar mempunyai sikap dan prilaku moral yang terhormat serta memegang teguh untuk mengamankan kepentingan publik yang terkait dengan sumber daya alam.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

upaya guru dalam mengatasi perkembangan remaja

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Remaja merupakan masa peralihan dari kanak – kanak menuju dewasa, banyak perubahan yang akan dialami seorang peserta didik pada masa ini yang menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif. Untuk mengatasi hal tersebut dan membantu peserta didik untuk keluar dari masalah yang dihadapinya maka peran seorang guru sangat dibutuhkan dalam hal ini. Seorang guru harus mampu memahami perkembangan setiap peserta didiknya agar dapat memberikan solusi terbaik atas segala permasalahan yang ada.

I.2. Tujuan Penyusunan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah utuk memenuhi tuntutan tugas mata kuliah “Perkembangan Peserta Didik”, dan juga untuk meanmbah pemahaman mahassiswa tentang pentingnya peranan guru dalam membantu siswa keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapinya pada tahap remaja.

I.3. Identifikasi Makalah

Pembahasan dalam makalah ini hanya mencakup tentang identifikasi masalah secara umum mengenai upaya guru memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan remaja.

I.4. Manfaat Penulisan Makalah

Manfaat dari penulisan makalah ini sebagai bahan acuan bagi para mahasiswa sebagai calon guru untuk mengetahuai bagaimana peranan guru dalam mengatasi masalah – masalah yang dihadapi oleh peserta didik pada masa remaja.

I.4. Sistematika Penyusunan Makalah

Penysusunan makalah ini dibuat berdasarkan urutan sebagai berikut :

  1. Bab I pendahuluan
  2. Bab II isi
  3. Bab III penutup/kesimpulan
  4. Daftar pustaka

BAB II

ISI

2.1 Pertumbuhan fisik remaja usia sekolah menengah

Pada saat remaja, berlangsung pula perkembangan fisik. Perkembangan ini ditandai dengan bertambahnya tinggi dan berat badan,  munculnya ciri-ciri kelamin primer dan sekunder. Ciri-ciri kelamin primer berkenaan dengan perkembangan alat-alat produksi, baik pada pria maupun wanita. Pada awal masa remaja anak wanita mulai mengalami menstruasi dan laki-laki mimpi basah, dan pengalaman ini merupakan pertanda bahwa mereka telah memasuki masa kematangan seksual. Disini peran guru sangatlah penting,  guru harus menjelaskan bahwa perkembangan dan kematangan fisik seseorang itu berbeda satu sama lain, dengan mengadakan program layanan khusus tentang pertumbuhan dan perkembangan fisik remaja, serta bentuk – bentuk diskusi seperti seminar dan penyuluhan.

2.2 Perkembangan intelektual remaja usia sekolah menengah

Perkembangan  intelektual remaja ditandai dengan kemampuan berpikir jauh melewati kehidupannya baik dalam dimensi ruang dan waktu, berpikir abstrak yaitu mampu berpikir tentang ide – ide. Berpikir formal pada remaja ditandai dengan 3 hal penting yaitu : Anak mulai mampu melihat kemungkinan – kemungkinan, telah mampu berfikir ilmiah, mampu memadukan ide – ide secara logis. Upaya Guru dalam mengawasi perkembangan intelektual adalah harus memahami karakter siswa karena tingkat kepintaran siswa tidak semua sama, jadi guru diharuskan menyesuaikan metode mengajar dengan kemampuan siswanya, guru mampu memberikan pengarahan tentang cara berpikir dewasa secara bertahap karena apabila dipaksakan siswa dapat depresi, membimbing siswa untuk berpikir ilmiah yang memandang masalah dari berbagai aspek sehingga solusi yang diperoleh akan maksimal, melakukan pendekatan dengan membiarkan siswa memutuskan suatu hal secara sendiri, dan memulai dari hal yang terkecil.

2.3 Perkembangan emosi remaja usia sekolah menengah

Masa remaja merupakan masa peralihan antara kanak –  kanak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan kematangan fisik, mental, sosial, dan emosi. Pada masa ini, remaja memiliki energi yang besar, emosi yang berkobar – kobar sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Untuk itu, guru jangan sampai memadamkan emosi yang berkobar itu, tetapi berusaha mengarahkan ke arah yang positif dan bermanfaat bagi remaja, dengan memberikan pengarahan, bimbingan, dan menjadi contoh yang baik bagi remaja.

2.4 Perkembangan bahasa remaja usia sekolah menengah

Perkembangan bahasa adalah kemampuan individu menguasai kosakata, ucapan, gramatical, dan etika pengucapannya dalam kurun waktu tertentu sesuai perkembangan umur. Pembentukan bahasa pada remaja dipengaruhi oleh faktor latihan, kemauan (motivasi), dan penampilan. Dalam perkembangan bahasa peran seorang guru adalah perlunya memberikan pemahaman kepada remaja tentang bagaimana remaja menyadari dan mampu menggunakan bahasa pergaulan dan bahasa baku pada tempatnya serta  menggunakan  strategi relajar yang tepat, agar kemampuan berbahasa dapat diimbangi dengan kemampuan intelektualnya.

2.5 Perkembangan moral dan sikap

Pada saat remaja sudah mulai terjadi adanya perubahan dari sikap patuh menjadi melawan terhadap orang tua, sikap melawan yang diperlihatkan remaja adalah dalam rangka menguji makna dari suatu norma yang diberikan padanya. Masalah lain yang sering terjadi adalah timbulnya bentuk kenakalan remaja seperti perkelahian, tawuran. Serta seringnya melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma masyarakat, seperti narkoba. Peran guru dalam hal ini adalah mengarahkan remaja untuk mengikuti kelompok perkumpulan remaja dengan kegiatan positif, perlunya pembinaan pribadi siswa baik dengan guru maupun orangtua, dan perlu adanya kerjasama antar lembaga yang bersangkutan dengan remaja untuk pembinaan minat, karier, dan aktivitas lainnya.

2.6 Perkembangan bakat khusus remaja usia sekolah menengah

Bakat khusus adalah kemampuan bawaan berupa potensi khusus dan jika memperoleh ksempatan berkembang dengan baik, akan muncul sebagai kemampuan khusus dalam bidang tertentu sesuai potensinya. Bakat khusus ini harus didukung baik oleh guru da lingkungan tempat tinggal baik secara internal maupun eksternal, dengan memberikan motivasi, arahan, dan fasilitas. Sehingga anak dapat mengembangkan bakat khusus yang menjadi keunggulan individu tersebut.

BAB III

KESIMPULAN

Pada hakikatnya, pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam hal ini peserta didik, tidak dapat dicegah karena akan terus berjalan secara alami. Yang terpenting adalah bagaimana remaja tersebut dapat mengisi tahap pertumbuhan dan perkembangan baik perkembangan fisik, intelektual, emosi, bahasa, bakat khusus, moral dan sikap, dengan hal positif dan bermanfaat. Oleh karena itu, dibutuhkan peran lingkungan seperti orangtua dan guru sebagai pendidik yang harus mengarahkan, membimbing, mengontrol, dan memberikan sarana dalam tipa tahap dan gejala perkembangan remaja, serta menjadi teladan yang baik sebagai seorang guru terhadap peserta didiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Marpiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional

Syamsuddin, Abin. 2004. Psikologi Kependidikan Tingkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Tim Pengajar. 2009. Perkembangan Peserta Didik. Medan : Universitas Negeri Medan

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment